do not judge , be communicative
Adil gak sih … kalo begini ..
Ada orang kerja dengan perjanjian dibayar satu juta per hari. Trus yang ngasih kerjaan masih cari orang lagi .. di tengah hari dilihatnya beberapa orang yang sedang menganggur dan ditawarinya kerja, mau, sehingga ada tambahan pekerja. Dan ketika hari telah sore dilihatnya masih ada orang yang menganggur di pasar, ditawari kerja, mau, dan datang untuk kerja. Semakin banyak orang yang bekerja di tempat itu.
Ketika malam tiba, semua orang mengantri untuk menerima upah. Yang datang sore hari dibayar satu juta, yang datang siang juga sama diberi satu juta. Ketika orang-orang yang datang pagi mengantri untuk mengambil upahnya, mereka terkejut karena dibayar satu juta. Wajar saja mereka berharap untuk mendapat upah yang lebih tinggi, bukannya mereka telah bekerja dari pagi dan tentu saja lebih lama. Akan tetapi orang yang memberi kerja malah berkata, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sejuta sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” *)
Konsep keadilan memang bukan sama rata sama rasa. Adil bisa dilihat dari bermacam sudut pandang. Dari sisi materi memang terlihat sisi “adil”-nya yaitu sama-sama 1 juta. Dari sisi beban kerja jelas lebih capek yang kerja sejak pagi, tetapi adil juga karena toh dia dibayar sesuai perjanjian. Bagi orang yang mendambakan pekerjaan sejak pagi sampai sore dan akhirnya mendapat pekerjaan tentu dirasa adil .. toh bekerja pada tuan yang sama.
Dalam konsep yang lebih luas, sosok pemberi kerja tentu sosok yang adil karena tidak membeda-bedakan pekerjanya. Dan dari keadilan yang diterapkannya dia menyadari bahwa pekerja yang telah bekerja sejak pagi sudah tidak mengkhawatirkan hari esoknya. Rasa mapan dengan diberi pekerjaan telah membuatnya bekerja dengan ringan. Rasa bebas dari kekhawatiran inilah yang telah “dijual” oleh si pemberi kerja. Rasa bangga telah dipilih bekerja sejak pagi ini juga yang “ditawarkan” oleh pemberi kerja. Dan jika para pekerjanya menyadari bahwa si pemberi kerja telah lebih memperhatikannya sejak pagi dibandingkan pekerja yang baru mendapat perhatiannya setelah sore hari maka tentu mereka tidak mengharapkan upah sebagai basis perhitungan. Tetapi perlindungan, kepercayaan, cinta, dan perhatian lah yang akan lebih dijadikan tolok ukur.
Orang yang telah bekerja sejak pagi telah memperoleh kegembiraannya sejak pagi dan orang yang bekerja baru pada sore hari juga baru mendapatkan kegembiraan di sore itu juga. Lebih banyak kegembiraan dan sama-sama satu juta .. tentu dapat dilihat bahwa orang yang bekerja lebih pagi telah mendapat “lebih” dibanding kawannya yang baru bekerja di sore hari.
Oh ya .. kenapa sih soal adil ini dibahas begitu mbulet .. ? Karena sore kemaren aku ketempatan APP di lingkungan dan inilah yang bisa aku bagikan.
*) Mat 20:1-16
Catatan : Gambar dari sini
Possibly Related Posts:
| Print article | This entry was posted by nindityo on February 28, 2008 at 11:58 am, and is filed under katolik. Follow any responses to this post through RSS 2.0. You can leave a response or trackback from your own site. |
about 8 months ago
Halo Brother,
menurut saya, anda menguraikan perumpamaan Tuhan Yesus tersebut diatas dari sudut yang kurang pas. Walau saya tidak bilang itu keliru, namun tetap luncas alias tidak tepat sasaran. Yang sebenarnya sesungguhnya amatlah sederhana, Pengusaha (Pemberi Kerja) nya telah melakukan kesepakatan secara personal dengan setiap Karyawannya. Dan ketika sudah terjadi deal, ya artinya tidak ada yang perlu diperdebatkan. Ini tidak bicara soal keadilan Pemberi Kerja (Tuannya), justru perumpamaan ini menggambarkan tentang sikap iri hati pekerjanya. Dan pesan moralnya adalah jangan iri hati, bukan soal adil atau tidak adilnya Pemberi Kerja. Supaya lebih mudah dicerna, coba saya gambarkan sebagai berikut: Anda seorang Pengusaha, merekrut karyawan sebut saja namanya A, B, C, D, dan E. Pekerjaan si karyawan tersebut sama persis. Tapi jam kerja A = 8 jam, B= 6 jam, C= 4 jam, D= 2 jam, dan E=1 jam. Anda sudah melakukan deal dng setiap karyawan secara personal, artinya anda oke, mereka masing-masing juga oke. Ya berarti no problem lah. Tidak bisa saya menyebut anda tidak adil, karena itu wewenang mutlak anda untuk merekrut & mempekerjakan karyawan dengan otoritas anda, dan pula karyawan yg anda rekrut pun oke dengan scheme pekerjaan + jam kerja. Depnaker pun tidak dapat menggugat anda, karena memang tidak ada dasar untuk menggugat hal tersebut apalagi dalam ranah keadilan, itu jauuuh sekali. Masalah yang timbul dari hal tersebut adalah potensi timbulnya ke-iri hati-an para karyawan. Mungkin saja si A sangat iri dengan si E, nah inilah topik sebenarnya. Dan konklusinya adalah “hendaklah engkau jangan iri hati atas setiap kasih karunia yang diberikan Tuhan secara berbeda-beda kepada setiap orang, karena itu wewenang Tuhan”.
Demikian brother, sori bila ada kalimat yang kurang berkenan, tetap teguh di dalam Tuhan, sukses selalu dalam segala bidang kehidupan. Nice posting, JBU.
about 8 months ago
Nyambung dikit lagi bro…
Soal kegembiraan yg didapatkan lebih oleh pekerja yg pagi dibanding pekerja yg sore, itu menurut saya sangat tidak relevan dengan konteks perumpamaan walau ditambahi kata “Dalam konsep yang lebih luas….”. Mengapa? Karena kalimat terakhir yg anda tulis itulah yang dikontradiksikan..”Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?”. Kalimat tesebut jelas menggambarkan adanya suatu iri hati yg timbul akibat murah hati. Nah murah hati yang dimaksud dalam perikop perumpamaan tersebut jelas saja bukan karena Pemberi Kerja yang memberikan kesempatan kegembiraan kepada karyawan yg kerja dari pagi, namun justru memberikan upah yang sama baik kepada yang bekerja dari pagi, maupun yang baru bekerja sore hari. Murah hati ini jelas sekali berkorelasi dengan Upah, dan bukan dimaksudkan dengan kegembiraan bekerja. Kan anda sendiri yang menulis diatas ” Ketika orang-orang yang datang pagi mengantri untuk mengambil upahnya, mereka terkejut karena dibayar satu juta. Wajar saja mereka berharap untuk mendapat upah yang lebih tinggi, bukannya mereka telah bekerja dari pagi dan tentu saja lebih lama. “.
Dan bila melihat dari sisi Pemberi Kerja, juga sama sekali tidak ada maksud untuk memberikan kegembiraan lebih banyak bagi yang bekerja dari pagi, karena memang konteksnya tidak demikian. Saya sangat mengerti apa yg anda maksudkan dengan kegembiraan bekerja karena lebih awal direkrut… Ilustrasi anda sendiri soal kegembiraan bekerja itu tidak keliru, namun sangat tidak nyambung, bila ilustrasi penjabaran makna kasih yang anda tulis diatas dikaitkan dengan perumpamaan dalam Mat 20. Silakan brother baca kembali ayat tersebut, lalu dicerna dan direnungkan dalam2, maka anda pasti akan memahami apa yang saya maksudkan….
Terlepas dari tulisan saya ini, saya tetap respek kepada anda, karena telah membuat blog dan menuliskan nilai-nilai moral yang baik. Saya support anda. Terimakasih, JBU.