Kenaikan harga BBM dibuktikan sudah. Akhirnya dengan ke-tambeng-annya pemerintah tetap menaikkan harga BBM meskipun banyak yang menolaknya. Banyak orang makin susah, kemiskinan makin banyak, pemerintah tidak peka, dan masih banyak lagi alasan lainnya. Penunggang alasan dibalik kenaikan harga BBM juga gak kalah banyak, mengatasnamakan penderitaan rakyat mulai mengecam orang lain, menyalahkan orang lain seakan jika dia yang memimpin maka harga BBM gak akan dinaikkan, mulailah era dimana dia salah dan aku benar. Nah sekarang saatnya pemain politik bermain. Semua perdebatan tentu mengundang emosi jika kita tetap berpandangan bahwa kita benar dan dia salah. Kita dikelompok pandai dan dia dikelompok bodoh. Tetapi sebuah perdebatan tentu akan semakin memperkaya kita jika kita mau belajar dan mau memahami kenapa orang bisa berbeda pendapat dengan kita. Inilah waktu yang tepat untuk memahami sesuatu dari sudut pandang yang baru. Belajar dari kenyataan hidup. Beberapa hal baru yang aku dapat dari perdebatan tentang kenaikan harga BBM antara lain :
Budi Utomo adalah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo pada tanggal 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia. (Wikipedia) Guru sejarahku dulu menjelaskan bahwa pada titik inilah perjuangan rakyat Indonesia mulai bersifat nasional. Jika dulunya hanya bersifat kedaerahan, kesukuan, keagamaan, dengan Budi Utomo dimulailah perjuangan yang bersifat nasional. Kenapa nasional? Karena sudah tidak ada batasan anggota dan sudah berencana menuju ke kemerdekaan Indonesia (Hindia Timur) dari jajahan Belanda. Dit, kamu mo ngajarin kita sejarah ya? Hehehe.. maaf, syukur kalo dah tau. Alinea di atas sengaja ditulis, karena siang tadi sempet liat acara di TV, ada wawancara beberapa orang dan ditanya siapa Budi Utomo dan tau gak jawabannya? Hampir semua menjawab "nama orang." Oke lah mungkin yang bener gak ditayangkan tapi gak ada salahnya kan kalo ngingetin lagi. Balik lagi ke tema hari ini.
Niat awal sih mau seneng-seneng ketemu temen-temen yang biasa saling sapa di dunia maya. Kenal lebih deket dengan pak Sawali dan minta tanda tangan atas buku kumpulan cerpen yang telah diterbitkan. Sesuai undangan berita disini maka acara berlangsung di Taman Ismail Marzuki. Satu tempat yang merupakan markas besar beragam komunitas seniman yang telah kondang ke manca negara. Disinilah aku pernah menonton teater yang sampai sekarang masih terngiang kalimat-kalimatnya. Disini tempat angker, sakral, dan sekaligus membanggakan. Bergetar sewaktu aku masuk ke halamannya. Akan tetapi disana malah tergelitik oleh suasana beberapa kejadian yang ada. Ini hal yang asing bagi aku. Jadi aku sebagai orang umum datang ke suatu komunitas satra. Tentu saja aku sudah mempunyai beragam ekspektasi, beragam bayangan tentang suasana dan keadaan disana. Tempat yang aku tuju Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin ternyata melangsungkan peluncuran buku yang digagas Komunitas Sastra Indonesia (KSI), Komunitas Cerpen Indonesia, dan itu sekaligus menggelar diskusi dan pembacaan puisi dalam bahasa Melayu dan Mandarin, pembacaan cerpen dan musikalisasi puisi.
Ini kali ketiga aku ke TIM. Pertama, taon 1990 ketika widyawisata SMP dan mampir ke Planetarium. Kedua, taon 2002 sewaktu nonton teater (lupa judulnya, yang jelas bagus). Dan ketiga, peluncuran buku kumpulan cerpen pak Sawali, Perempuan Bergaun Putih, Jumat 16 Mei 2008 kemaren. Dateng jam 13.45 telat dikit. Ojeg yang aku naikin dari Pluit pelan banget jalannya. Sambil pegang setir stang, si tukang ojegnya cerita kalo dia barusan coba nyicil motor jadi tukang ojeg setelah sebelumnya kuli bangunan. Aku hanya meniyakan saja. Sampai lampu merah stasiun kota, dia nanya "kita lurus ato belok kiri?" Lho.. "Lurus aja pak, nanti di Gambir baru belok kiri", sahutku masih tanda tanya. Akhirnya kita lurus melewati Glodok. Di lampu merah pertigaan Mangga Besar, kembali terdengar suara ,"Kita lurus ato belok kiri?" ... :roll: Gak usahlah "kita lurus ato belok kirinya dibahas".. gak penting selain kasian bagi yang fakir bandwith karena ada lebih dari 10 lampu merah menuju TIM. Dan jangan ditanya apakah si tukang ojeg itu bisa kembali ke tempat mangkalnya lagi, karena dia sempet bilang belum pernah ke TIM. Dan tentu saja bukan masalah kalo dia gak tau jalan, aku sih hapal.. tapi pengakuan bahwa dia baru bisa megang motor itu yang bikin was-was. Kembali ke TIM,