sepotong

Kesenanganku melihat “orang susah” diawali dengan seringnya baca “Oh Mama, Oh Papa”, suatu rubrik di Majalah Kartini. Tentu saja saat itu bukan cerita orang susahnya yang dicari tapi kisah percintaannya yang diliat. Secara masih culun dan lagi seneng-senengnya cinta ama monyet. Apalagi endingnya dibiarkan terbuka ..wah semakin rame. Lebih menarik dari cerpen di majalah Anita Cemerlang deh .. :D jadul banget yo. Semakin lama mulai timbul pergeseran cara membaca. Lambat laun mulai membaca bagaimana cara pembaca menanggapi berbagai persoalan “orang susah” yang ada. Terlebih lagi dengan semakin berumur, semakin merasa bahwa banyak masalah yang mirip. Dan akhirnya berlabuhlah ke konsultasi psikologi di Kompas yang diasuh ama bu Leila. Masak lelaki muda yang beranjak dewasa ini duduk manis di ruang tamu sambil baca majalah Kartini dengan sampul depannya wanita berumur dan bersanggul, ya malu tho.

Beberapa hari yang lalu sewaktu baca Kompas Minggu sedikit terhenyak ketika sang pengasuh ruang konsultasi psikologi Leila Ch. Budiman menyatakan pamit dari mengasuh rubrik tersebut. Lha iya ya, selama ini gak pernah kepikiran kalo pengasuh konsultasi psikologi akan pensiun. Seakan-akan selamanya akan ada dan mengasuh ruang konsultasi itu. Banyak pelajaran selama ini yang bisa aku dapat dari membaca berbagai persoalan yang dihadapi oleh orang-orang yang dimuat suratnya. Dan tanpa mengurangi rasa hormat pada para pengasuh ruang konsultasi psikologi di Kompas Minggu berikutnya, aku berterimakasih yang sebesar-besarnya buat bu Leila.

Salah satu cerita yang merubah aku adalah kisah seorang istri yang begitu perkasa dengan segala kelebihan yang dimiliki. Sedang suami digambarkan begitu anak maminya yang masih perlu bimbingan orangtuanya sehingga suasana keluarga mereka menjadi tidak harmonis. Dan dengan sudut pandang pengetahuan psikologi yang dimiliki, bu Leila memberikan tanggapan yang dianggap mampu memberikan suasana yang lebih baik. Semisal jangan ingin menang sendiri, agar mau menerima kekurangan dan juga bersabar siapa tau suami akan berubah. Jawaban yang tidak menggurui dan tentu saja bermanfaat.

Tapi bukan jawaban bu Leila yang membuatku tertarik. Beberapa minggu berikutnya, bu Leila memuat tanggapan dari pembaca atas persoalan istri yang sempurna di atas. Seorang pembaca menulis, jika seandainya yang dibilang istri tadi sebenarnya adalah sebaliknya bagaimana seharusnya kita bersikap. Misalnya, istri tadi sebenarnya boros dan peselingkuh sehingga karena malu sang suami (yang sebenarnya mengetahui hal itu) jadi menutup diri bahkan pindah kantor karen tak tahan sama omongan orang. Suami yang dibilang anak mami tadi hanya disebabkan kecurigaan sang istri yang merasa gaji sang suami tidak seluruhnya diserahkan. Ato karena ketika sekali waktu ortunya telpon ke rumah trus dibilang sering telpon. Ato hal-hal lain yang dilakukan seorang suami yang sebenernya dilakukan karena akibat dari tindakan-tindakan sang istri sebelumnya. Dan apakah setiap jawaban dari bu Leila bisa dijadikan pembenaran jika ada yang mengalami persoalan serupa ?

Kebesaran hati untuk memuat tanggapan pembaca tentu sudah selayaknya dipuji. Dan salah satu jawaban bu Leila adalah bahwa setiap orang yang menulis surat dianggap sudah cukup dewasa untuk dapat memilah-milah mana yang merupakan persoalan dan mana yang merupakan keinginan untuk mencari pembenaran diri. Sehingga tanggapan atas setiap persoalan hanya bisa didasarkan pada cerita pembaca yang suratnya dikirimkan dan dimuat. Dengan kolom yang terbatas dan cerita yang bisa dibilang tidak utuh lah berusaha dicari penyelesaian yang bermanfaat. Detik itulah aku seperti tersadar bahwa apa yang sering aku lihat sebenernya hanyalah potongan-potongan puzzle dari kumpulan puzzle yang besar. Apa yang aku anggap benar sekarang dan aku jadikan dasar untuk mengambil keputusan bisa jadi hanyalah karena sepotong informasi saja dan bukan satu gambaran utuh dari suatu peristiwa.

Dan akhirnya keinginan untuk merasa menang sendiri dan paling benar semakin lama semakin berusaha aku jauhi. Silakan ambil kebenaranmu, silakan ambil kemenanganmu. Jika berdiskusi, mari cari benar. Tapi kalo menang yang kamu cari, silakan ambil. :D Kesalahpahaman sangat mungkin terjadi, tata moral setiap orang berbeda, tidak ada yang musti dipaksakan.

Nah lho.. trus apa hubungannya dengan gambar di atas ?

Emang gambar apa menurutmu ?

Catatan :
Sampai saat ini aku belum pernah kirim surat ke bu Leila :D apalagi kasih tanggapan ato protes.
do not judge, be communicative

utuh

Possibly Related Posts:


  • Share/Bookmark