Ketika membaca kalimat Share The Road, suatu kalimat penuh makna yang digagas oleh Road Safety Association (RSA), yang terbayang adalah adegan orang pake baju lurik lewat di depan ku sambil bilang : “misi mas.. numpang lewat.” Mungkin karena kalimat “share the road” itu secara harafiah bisa diartikan “bagi jalan (dong)” yang juga bisa diartikan numpang lewat. :D

Numpang lewat ato bagi jalan dong emang berkaitan dengan yang namanya jalan. Konotasi disini jelas jalan raya. Ada sosok pemakai jalan dan ada sosok lain yang juga ingin memakai jalan yang sama sehingga sesama pemakai jalan itu musti berbagi. Dan kata orang, berbagi itu susah. Karena pada dasarnya orang ingin mendapatkan kepuasan dan ingin memaksimalkan kepuasannya, dalam kasus ini tentu ingin menguasai sendiri jalan raya tadi. Benarkah demikian ? Emang bisa ? Oke kita liat yuk ..

Kepuasan di Jalan

Sering banget kita liat gimana jumawa nya sopir-sopir truk itu tetap melaju pelan dijalur cepat meskipun rambu-rambu segedhe gaban tertulis “Truck dan Bus Ambil Jalur Kiri”. Ato gimana rasanya ketika melihat mobil yang berada di jalur cepat ternyata dengan santainya tetap di kecepatan rendah. Ato gimana gedheg nya liat rombongan moge masuk jalan tol. Semua merasa jalan milik dia (mungkin karena membayar) dan berhak menggunakannya sesuka hati. Begitu pula dengan sisi paling kiri yang merupakan jalan darurat di tol, dilewati mobil-mobil dengan alasan jalan macet. Hmm.. belum pernah mogok di tol ya. Saat itu baru ngerasa manfaat jalur darurat itu. Ato harus ngerasa dulu baru tau manfaatnya ? Hoooi.. itu jalan bukan milik moyang loe. Bagi dong buat yang lain.

Kepuasan di Kendaraan

Tentu bukan maksudnya cari “kepuasan” di dalam mobil meski sering juga kita liat di sepanjang pantai Ancol. Kepuasan disini lebih pada ingin menunjukkan bahwa mobilku yang paling bagus, motorku yang terbaik, milikku yang tercepat. Lampu merah sering dijadikan titik start untuk memulai road race dan ujung-ujungnya jatuh korban. Bukan hanya korban dari para Road Racer tapi juga korban pengguna jalan lain yang gak tau menahu. Hoooi.. itu jalan bukan milik moyang loe. Bagi dong buat yang lain.

Kepuasan di Trotoar

Trotoar jelas merupakan bagian dari jalan. Trotoar adalah jalan untuk pejalan kaki. Tapi liat kenyataannya. Trotoar udah dikapling buat cari nafkah. Buat jualan sehingga orang musti loncat ke jalan raya untuk berjalan. Tentu berbahaya dan sudah banyak korban dari kejadian ini. Ada juga trotoar yang jadi pangkalan ojeg. Bahkan di beberapa tempat, trotoar malah jadi jalan tol bagi motor-motor untuk menembus kemacetan. Hoooi.. itu jalan bukan milik moyang loe. Bagi dong buat yang lain.

Kepuasan di Komunitas

Komunitas pengguna jalan beraneka ragam. Komunitas yang resmi seperti ambulan, kepolisian, tentara, corps diplomatic, pejabat negara, dan sebagainya memang memiliki beberapa hak khusus yang diatur oleh Undang-undang. Tetapi kayaknya dah gak jaman, jika sirene meraung-raung membuka jalan hanya untuk mengantar rombongan turis. Ato di sore yang padat seseorang berbaju polisi bermoge menggebrak mobil-mobil yang terjebak kemacetan agar dikasih lewat sedan menteri. Kalo gak mo macet ya naik heli dong bos.. Ato komunitas gak resmi seperti pawai motor saat kampanye, rombongan pengantar jenazah, dan suporter sepakbola. Komunitas seperti ini yang tanpa komando ato tanpa pemimpin cenderung brutal dan tidak mau diatur. Akibatnya pengguna jalan yang lain tersingkir. Hoooi.. itu jalan bukan milik moyang loe. Bagi dong buat yang lain.

Silakan tambahkan jika ada kepuasan-kepuasan yang lain. Yang jadi masalah adalah gimana menyikapi kepentingan pribadi ato golongan terhadap pengguna jalan yang lain. Jika tidak dibekali oleh pengetahuan yang cukup dalam berkendara di jalan raya tentu akan berakhir pada siapa kuat dia yang menang, alias hukum rimba. Dan pengetahuan yang cukup itu tentu haruslah dimulai dari diri sendiri. Masak mengharap orang lain dulu yang musti berubah. Kalo Loe sopan Gw pasti enggan, halah kuno itu. Yang lebih baru adalah, Gw Sopan karena Gw Sopan. Titik. Kalo semua-semuanya ngarepin orang lain ya gak ada habis nya tho ?!

Sewaktu dulu sering melintas Jakarta Semarang, aku sering heran liat truk yang mogok gak pernah satu biji. Ternyata jalanan mengajarkan mereka untuk saling menjaga ketika salah satu dari mereka sedang mengalami masalah. Jika pun tak bisa membantu memperbaiki mogoknya (entah pecah ban ato masalah mesin) ya minimal bisa membantu menjaga keamanan barang bawaan mereka. Disini, mereka sudah berbagi.

Keadaan yang sama aku alami ketika melewati jalanan berkabut di kawasan Dieng. Beberapa mobil lewat dengan menyalakan lampu kabut dan sein kanan. Kenapa sein kanan? Lampu mobil biasa tidak akan mampu menembus kabut, hanya lampu kabut yang bisa. Tetapi tidak semua mobil memiliki lampu kabut sehingga sein kanan dinyalakan sebagai penanda batas kanan untuk pengendara yang melaju dari jalur sebelah depan dan agar pengendara yang dibelakang tidak menyalib karena si penyala lampu sein tidak mampu untuk melihat keadaan di depannya. Suatu tindakan yang sederhana tetapi menjadi hukum tidak tertulis didaerah tersebut. Dan tentu saja sangat bermanfaat. Satu pelajaran tambahan buatku. Mereka juga telah berbagi.

Hal yang lain, ketika aku akan menyalib sebuah truk ato bis yang berjalan di sebelah kiri, terkadang mereka menyalakan lampu sein kanan. Awalnya sih bete, kesannya aku nyalib aja gak di kasih. Tapi segera pandangan berubah ketika menyadari bahwa mereka menyalakan sein kanan, hanya dan hanya jika mereka merasa sisi sebelah kanan terlalu berbahaya untuk dilewati. Satu pelajaran yang sangat berharga. Ketika kalimat “jaga jarak aman” begitu di dengungkan yang lebih ditekankan pada “liat dan awasi sisi depan kamu”. Ada sebagian komuntas yang sudah mulai berbagi “pengawasan sisi depan buat yang lain”. Indah sekali rasanya. Berbeda banget dengan kalimat seorang temen, ketika aku ingatkan untuk kasih sein kanan agar pengendara di belakang tidak menyalib dari sisi kanan, yang berkata, “yang belakang mesti jaga jarak dong, masak gw yang ngasih tau mereka kalo di depan ada orang yang mo nyeberang. Kalo orang itu ketabrak ya salah yang nabrak karena melaju terlalu kencang.” Wow .. konsep berbagi masih jauh dari pikirannya.

Seorang temen yang lain punya pemikiran yang berbeda dengan konsep berbagi di jalanan. Ah hanya iseng aja dan jauh dari segala konsep, ujarnya. Sederhana saja yang dilakukannya. Dia gak akan mau diajak beli DVD di kaki lima yang mengambil jatah pejalan kaki alias menggelar dagangan di trotoar. Hei.. ide bagus, aku ikut ah :) Dan kenyataannya emang banyak hal kecil dan sederhana yang akan membuat jalanan lebih terasa ramah dan bersahabat. Menyeberang di tempat yang telah disediakan. Berhenti di belakang garis stop. Tidak membantu membeli dagangan di trotoar dan di lampu merah. Sebelum membelok menyalakan sein. Nyalakan lampu kalo mengendarai motor. Dan juga, jangan membeli SIM. Haa.. sederhana kan.

Kuncinya adalah berbagi. Kendalikan dirimu saat di jalan. Jalan bukan milik kita, banyak pemakai jalan yang lain. Berbagilah. Jika pun mereka tidak mau mengalah.. maafkanlah. Lapangkan hati. Sebar alasan atas tindakan mereka, mungkin mereka sedang tergesa-gesa. Mungkin mereka ada tugas negara. Mungkin sedang ada kesulitan yang membuat mereka melanggar semua aturan lalu lintas. Buang egomu. Bagi jalan buat yang lain. Mulai dari diri kita, mulai dari yang terkecil, dan mulai dari sekarang. Share the road .. share your heart.

Selamat menuaikan ibadah puasa.

Catatan : Gambar diambil dari www.maludong.com

Possibly Related Posts:


  • Share/Bookmark