Friday, May 25, 2018 7:37

Kemiskinan (Poverty)

Posted by on Thursday, October 16, 2008, 2:18
This news item was posted in perjalanan category and has 8 Comments so far.

Hajatan Blog Action Day 2008 diluncurkan pada tanggal 15 Oktober ini (dan tidak dimundurkan dengan alasan apapun) dengan tema Poverty ato Kemiskinan. Ketika mendengar adanya acara semacam ini tentu saja aku antusias untuk mengikutinya. Kalo bicara tentang kemiskinan terutama di Indonesia apa sih susahnya ? Di sepanjang jalan banyak kok kemiskinan yang aku temui. Penjelasan lebih detil tentang acara ini tentu ada di situs resmi hajatan BAD2008. Aku cuma melihat dari sisi yang aku rasa menarik.

Pengertian “miskin” mulai aku rasa ketika mulai bekerja. Bukan berarti bahwa sebelumnya aku tidak memahami arti kemiskinan, cuma sebelumnya aku lebih merasa bahwa itu hanya merupakan bentuk akibat dari doa yang belum terkabul. Sebab secara sadar aku memahami bahwa “miskin” bukan berarti “kurang” sehingga tidak selayaknya aku melihat orang miskin sebagai pihak yang musti dikasihani.

Ketika mulai bekerja, aku menggunakan moda transportasi kereta api. Dan begitu terkejut ketika melihat banyak rumah atau lebih tepat disebut gubug di sepanjang rel kereta. Setiap pagi banyak yang mulai melakukan aktivitas mencuci dan mandi di sepanjang rel. Bahkan ketika kereta berhenti menunggu sinyal masuk stasiun, mereka tetap saja mandi meski di sebelahnya ada gerbong penuh orang yang melihat aktivitas mereka. Disini aku mulai berpikir bahwa banyak orang miskin di Jakarta. Buktinya banyak gubug di sepanjang rel.

Dalam perjalanan, di dalam gerbong kereta pun begitu banyak pengemis lalu lalang. Jangan sebut aku iseng karena menghitung jumlah pengemis yang lewat di gerbong ya .. dan yup di dalam gerbong yang penuh sesak orang itu bergantian lewat dari mulai pengemis buta, pengemis dengan cacat tubuh, pedagang (jual koran 2 lembar buat duduk nglesot), penyair, pengamen, penyapu gerbong (pake tangan), dan anak-anak kecil dengan lem castol di balik baju yang meminta sedekah. Disini kembali aku dibukakan mata bahwa banyak kemiskinan di Jakarta buktinya banyak pengemis dan habisnya uang recehku.

Sampai suatu ketika, aku terpaksa lembur pulang kantor dan menikmati kereta api terakhir menuju Serpong dari stasiun Kota. Suasana berubah 180%. Gubug sepanjang rel kereta berubah menjadi terang benderang dan bukan menggunakan petromaks. Listrik, lengkap dengan lampu pijar dan kelap kelip lampu hiasnya. Kehidupan malam mulai menampakkan dirinya. Musik berdentam begitu meriah dengan orang berjubel di sepanjang rel. Kemiskinan tidak terlihat. Kumuh sih tetep.

Saat yang sama terlihat para pengemis yang berwajah muram dan nampak tidak saling mengenal saat pagi dan siang berubah menjadi saling goda. Salah satu pengemis bertongkat terlihat berteriak sambil tertawa ketika diledek temannya. Bahkan mampu bergerak cepat untuk mengayunkan tongkatnya. Beberapa yang lain duduk manis dibangku kereta. Tertidur dalam kereta tak berlampu yang hanya benderang ketika beberapa pedagang yang masih bersliweran lewat dengan lilin dibalik dagangan mereka. Kemiskinan berganti wajah.

Beberapa bulan kemudian, keadaan menuntutku untuk pulang tiap bulan ke Semarang. Dalam keadaan yang pas-pasan sangat sulit untuk membagi uang makan dengan tiket kereta sehingga ketika seorang teman mengajak untuk membayar di atas gerbong alias pulang tanpa tiket alias gak bayar, aku menyetujuinya. Bagiku wajar jika kereta yang masih juga kosong itu ketambahan satu orang lagi. Gak ada ruginya. Toh kereta kosong pun tetap harus berangkat. Yang ada malah keuntungan buat kondektur karena mendapat tambahan penghasilan dari uang nebeng para penglaju seperti aku ini. Wajar kan ?!

Sampai suatu ketika terjadi keributan kecil antar sesama anggota kami. Salah seorang yang marah berkata bahwa dia naik kereta gak bayar karena tidak mampu untuk beli tiket alias miskin harta sedangkan lawannya gak bayar karena miskin hati karena sebenernya mampu secara harta. Sampai disini aku kaget. Kegembiraan yang aku alami dengan “menumpang” kereta ternyata tak ubahnya para pengemis dalam kereta yang merasa bahwa mereka mengemis karena mereka berhak sebagai orang miskin. Miskin kah aku ?! Jelas dibanding para pengemis itu aku berlebih. Dan berakhirlah petualanganku naik kereta gratis.

Dan memang pada dasarnya kemiskinan yang ada di sekitar kita lebih pada kemiskinan hati. Memang benar bahwa 49,5 % penduduk kita hidup dibawah garis kemiskinan dunia. Tapi kemiskinan hati yang hampir merata telah membuat kemiskinan harta itu tak kunjung bisa teratasi. Korupsi sebagai salah satu bentuk kemiskinan hati masih merajalela di negeri ini dan membuat kemiskinan harta menjadi semakin parah.

Bahkan kita jual kemiskinan orang lain pada diri kita sendiri sehingga sering kita merasa melakukan tindakan benar hanya karena ada orang miskin di depan kita. Kita beri perhatian yang berlebih pada pengemis di lampu merah hanya untuk meninggikan AKU. Cari pahala, niatnya baik, hanya berbagi kegembiraan dan beberapa kata merendah lainnya yang kalo dipikir hanya membuat batas antara aku dan kamu saja. Memberilah yang cerdas, kata sang Kyai. Sebab kemiskinan ada juga bukan untuk mengasihi diri sendiri.

Kita juga jual kemiskinan bangsa yang 49,5% tu hanya untuk menonjolkan AKU. Pilih lah aku, pilih partaiku. Coblos aku dan kamu tak akan miskin lagi. Halah… basi. Saatnya kemiskinan bukan untuk dijual belikan. Jangan berpura-pura. Berbagilah yang tulus. Sebab lebih baik tangan di atas dari pada bersikap miskin dan bersikap menuntut. Bertindaklah tanpa pamrih, tanpa bendera kepentingan. Hapus kemiskinan baik harta maupun hati. Dimulai dari hal-hal kecil seperti tidak gampang memberi sedekah di gerbong kereta, dimulai dari diri sendiri dan tidak menunggu ajakan orang lain baru bertindak, dan dimulai dari .. sekarang.

Ditulis untuk Blog Action Day 2008.

You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Responses to “Kemiskinan (Poverty)”

  1. 2008.10.16 05:10

    hwehehe… ikutan nulis ini juga rupanya… :mrgreen:

    cKs last blog post..Kemiskinan Di Sekitar Kita

  2. 2008.10.18 06:16

    ooo..this the result from late wake up at that time…..very good….
    I relieved that you stopped your bad habits…hehehe man..you applied free rider in real and practical way hihihihi……
    For me, the dangerous and potetic poverty is when you are empty in your heart and always feel lack and never grateful of what you get and never think others and always me, me and me. I am afraid of being poor in heart not in appearence, hopefully I never use my poverty to gain anything as my reason.
    Ning

    nings last blog post..Confession from deep inside of my heart

  3. 2008.10.21 16:49

    woogh ga jadi nulis kemaren hiks buat Blog Action Day.. hiks ๐Ÿ˜ฅ
    *lirik draft yang tidak pernah selesai itu*

    Chics last blog post..Terima Kasih

  4. 2008.10.23 11:52

    emang basi abis tuh klo cuma ngomong… mending buktiin dulu baru ngomong.. betul ka Nin? he..he..

  5. 2008.10.23 12:16

    kapan bang kita makan2nya ??
    katanya mw ketemuan ?? ๐Ÿ˜ฏ

  6. 2008.10.31 10:41

    coba kalo semua penduduk miskin….. pasti malah ngak ada yang miskin, Cos orang miskin ada disebabkan karena ada orang kaya, kalo ngak ada rang kaya berarti nggak ada orang miskin

    suwungs last blog post..Perkenalkan : Ini Istri Diriku Yang Kedua

  7. 2008.11.01 15:04

    satu blog yang baik ,penuh dengan info yang manarik

  8. 2008.11.10 10:40

    ulasanya mantap bos… he2

Leave a Reply


A wordpress magazine theme design by Custom Theme Design.