do not judge , be communicative
katolik
Tulisan yang berhubungan dengan agama katolik
Adil gak sih … kalo begini ..
Feb 28th
Ada orang kerja dengan perjanjian dibayar satu juta per hari. Trus yang ngasih kerjaan masih cari orang lagi .. di tengah hari dilihatnya beberapa orang yang sedang menganggur dan ditawarinya kerja, mau, sehingga ada tambahan pekerja. Dan ketika hari telah sore dilihatnya masih ada orang yang menganggur di pasar, ditawari kerja, mau, dan datang untuk kerja. Semakin banyak orang yang bekerja di tempat itu.
Ketika malam tiba, semua orang mengantri untuk menerima upah. Yang datang sore hari dibayar satu juta, yang datang siang juga sama diberi satu juta. Ketika orang-orang yang datang pagi mengantri untuk mengambil upahnya, mereka terkejut karena dibayar satu juta. Wajar saja mereka berharap untuk mendapat upah yang lebih tinggi, bukannya mereka telah bekerja dari pagi dan tentu saja lebih lama. Akan tetapi orang yang memberi kerja malah berkata, “Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sejuta sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?” *)
Konsep keadilan memang bukan sama rata sama rasa. Adil bisa dilihat dari bermacam sudut pandang. Dari sisi materi memang terlihat sisi “adil”-nya yaitu sama-sama 1 juta. Dari sisi beban kerja jelas lebih capek yang kerja sejak pagi, tetapi adil juga karena toh dia dibayar sesuai perjanjian. Bagi orang yang mendambakan pekerjaan sejak pagi sampai sore dan akhirnya mendapat pekerjaan tentu dirasa adil .. toh bekerja pada tuan yang sama.
Dalam konsep yang lebih luas, sosok pemberi kerja tentu sosok yang adil karena tidak membeda-bedakan pekerjanya. Dan dari keadilan yang diterapkannya dia menyadari bahwa pekerja yang telah bekerja sejak pagi sudah tidak mengkhawatirkan hari esoknya. Rasa mapan dengan diberi pekerjaan telah membuatnya bekerja dengan ringan. Rasa bebas dari kekhawatiran inilah yang telah “dijual” oleh si pemberi kerja. Rasa bangga telah dipilih bekerja sejak pagi ini juga yang “ditawarkan” oleh pemberi kerja. Dan jika para pekerjanya menyadari bahwa si pemberi kerja telah lebih memperhatikannya sejak pagi dibandingkan pekerja yang baru mendapat perhatiannya setelah sore hari maka tentu mereka tidak mengharapkan upah sebagai basis perhitungan. Tetapi perlindungan, kepercayaan, cinta, dan perhatian lah yang akan lebih dijadikan tolok ukur.
Orang yang telah bekerja sejak pagi telah memperoleh kegembiraannya sejak pagi dan orang yang bekerja baru pada sore hari juga baru mendapatkan kegembiraan di sore itu juga. Lebih banyak kegembiraan dan sama-sama satu juta .. tentu dapat dilihat bahwa orang yang bekerja lebih pagi telah mendapat “lebih” dibanding kawannya yang baru bekerja di sore hari.
Oh ya .. kenapa sih soal adil ini dibahas begitu mbulet .. ? Karena sore kemaren aku ketempatan APP di lingkungan dan inilah yang bisa aku bagikan.
*) Mat 20:1-16
Catatan : Gambar dari sini
Possibly Related Posts:
Renungan Harian dan Bacaan Harian
Feb 21st
Hari ini seperti biasa aku mendapat kiriman email berisi renungan harian. Dan seperti biasa juga dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Seperti biasanya juga aku langsung lari ke bahasa Indonesia nya.
Ya namanya renungan kan harus direnungkan dong.. masak musti dipelajari .. kalo bahasa Inggris kan musti buka kamus.. cari arti dulu.. cek sama Indonesianya, perlu diartiin mentah-mentah ato dicari di bagian idiom nya, dll… yang malah bikin makna renungannya jadi tidak dapat. (ngeles : mode on)
Namun email masuk berikutnya, yang merupakan reply dari renungan tadi, membikin aku sedikit belajar (akhirnya
). Temen tadi cuma me-repply, kok inggris dan indonesianya artinya beda jauh ya .. Dan langsung ada yang me-repply dengan kalimat .. iya nih lebih “mantep” pake bahasa inggris nya .. soul-nya dapet. Aku yang baca langsung membatin .. waduh nerjemahin artinya aja pusing boro-boro ketemu soul .. hehehe … (sambil buka kamus cari arti kata soul .. oke berlebihan
)
Berbulan yang lalu, dalam acara obrolan santai di kereta api AC menuju Pondok Ranji setelah pulang kantor, salah satu temen pernah menyinggung bahwa kamus Indonesia Inggris terbagus dan terbesar adalah Alkitab (bahasa Inggris) dengan terjemahan (Indonesia)-nya. Soal bener enggaknya ya gak tau.. sementara bolehlah dipahami bahwa tentu saja banyak kata, rangkaian kata, dan idiom dalam bahasa Inggris yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, jadi diassumsikan bahwa semakin banyak kata semakin banyak terjemahan… hmm ..bolehlah analoginya. Tapi kalo artinya beda jauh berarti terjemahannya yang ngaco dong .. Lho emang ada yang beda ??? (jelas ada karena di atas telah disinggung).
Nih sebagai contoh :
Kisah Para Rasul 9:31
Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Gereja itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.
Acts of the Apostles 9:31
31 So the church throughout all Judea and Galilee and Samaria had peace and was built up; and walking in the fear of the Lord and in the comfort of the Holy Spirit it was multiplied.
Kata “church” biasanya dipahami sebagai gereja tapi disini sebagai jemaat.
Oke jika ada perbedaan seperti itu .. trus apakah musti kita baca semuanya dalam bahasa Inggris supaya bisa dapet arti ato “soul” yang bener ?
Oh..tidak begitu maksudku .. ini hanya untuk memperjelas bahwa Kitab Suci bukannya semata-mata Kamus terbesar. Lagian kata siapa Kitab Suci awalnya pake bahasa Inggris. Memang paling baik untuk membaca Kitab Suci kalau tahu bahasa asli (juga adat kebiasaaan dan situasi sejarah saat itu). Tetapi ini bukan suatu hal yang gampang atau mudah dilaksanakan. Bahkan harus dikatakan bahwa untuk kebanyakan orang, ini hampir mustahil, tidak ada kesempatan, tidak ada waktu dan juga tidak ada pendidikan dasar untuk itu. Maka sebaiknya itu diserahkan kepada para ahli saja.
Maka Kitab Suci tidak bisa semuanya dilihat dan dibaca sebagai satu ayat yang sambung menyambung menjadi sebuah kitab. Yang boleh diartikan ayat per ayat. Membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pun harus melihat tema dari bacaan tersebut. (Ck..ck.. keren kan kalimat gw ..
). Tema bacaan itulah yang yang merupakan “soul” nya. Inilah sebabnya aku tadi bilang belajar, sebab aku jadi berpikir kenapa yach kok aku baca renungan harian dan bukannya baca bacaan harian.
Renungan harian yang selalu aku terima via email selalu diawali oleh suatu kisah tentang pengalaman seseorang dan selalu dikaitkan dengan satu ato dua ayat dalam kitab suci. Jujur saja kisah-kisah itu selalu menyentuhku. Tapi bagaimana kisah tersebut menemukan ayatnya itu membuatku merasa bahwa ayat hanya digunakan sebagai “judge” pembenaran kisah tadi. Soalnya aku jadi berpikir jika aku punya pengalaman dan aku sisipin ayat suci didalamnya.. wah tentu pengalamanku akan menjadi pengalaman suci.. dan ujung-ujungnya aku orang suci juga ..hehehe…
Berbeda dengan renungan harian, bacaan (Kitab Suci) harian umumnya telah ditetapkan ato terjadwal terlebih dahulu. Dan karena telah dibuat terlebih dahulu maka dapat diketahui tema harian dari bacaan itu.. tema bulanan.. bahkan tema untuk satu tahun. Bacaan harian tersebut kemudian dilengkapi dengan ulasan untuk dipahami, dihayati, sebagaimana dihayati oleh Israel dan oleh jemaat perdana, dan dari penghayatan Kitab Suci itu kita harus tanya bagaimana dengan hidup kita sekarang.
Cara merenungkan bacaan harian gimana ya …
(a) Pertama-tama kita harus tahu dengan jelas apa sebetulnya tema yang oleh sang pengarang disini dibahas. Dan (b) kemudian kita harus tahu apa kebutuhan kita. Serta (c) akhirnya kita sendiri harus bertindak nyata di lingkungan sekitar sebagaimana isi dari Kitab Suci.
Pelajaran yang aku dapet sebagaimana telah aku singgung di atas adalah bahwa janganlah kisah hidup kita disandingkan dengan suatu ayat karena ini hanya akan “membenarkan” nya dihadapan Kitab Suci.
Gak percaya ? Liat aja sekeliling.
Catatan : Gambar dari sini
Possibly Related Posts: