do not judge , be communicative
Posts tagged diri
Reformasi Birokrasi di Bidang Perpajakan
Mar 12th
Sedari dulu berusaha mencari berita tentang reformasi di instansi tempatku bekerja. Akhirnya menemukannya, di situs ini. Meski telah dikutip sumbernya tetapi aku gak bisa mengaksesnya langsung. Jadi aku copy paste aja ya .. silakan dibaca dan mungkin bisa dibandingkan dengan kenyataan dilapangan.
DALAM rangka peningkatan kinerja menuju good governance Direkterat Jenderal Pajak melakukan reformasi birokrasi di bidang perpajakan.
Untuk mengetahui lebih jauh mengenai reformasi birokrasi di Direktorat Jenderal Pajak, maka berikut ini disampaikan rangkuman hasil wawancara Media Indonesia dengan Dr. Darmin Nasution, Direktur Jenderal Pajak.
Dalam melaksanakan tugasnya Direktorat Jenderal Pajak berpegang pada prinsip-prinsip perpajakan yang baik yaitu: keadilan (equity), kemudahan {simple and understandable), waktu dan biaya yang efisien bagi institusi maupun Wajib Pajak, distribusi beban pajak yang lebih adil dan logis, serta struktur pajak yang dapat mendukung stabilisasi dan pertumbuhan ekonomi.
Untuk mendukung semua itu Direktorat Jenderal Pajak melakukan reformasi birokrasi yang didasari 4 (empat) pilar, yaitu:
Modernisasi Administrasi Perpajakan
Modernisasi administrasi yang digulirkan mulai tahun 2002 terus dikembangkan, akhir tahun 200/ seluruh kantor pajak di Jawa telah modern yang akan disusul seluruh Indonesia pada akhir tahun 2008.
Ciri khas kantor modern ini selain seluruh sitem administrasinya dibangun berbasis Teknologi Informasi (TI) sehingga pelaksanaan pekerjaan lebih efisien, aman, dan akurat juga organisasinya dibangun berdasarkan fungsi sehingga diharapkan dapat menuntaskan segala macam pekerjaan tanpa harus khawatir tumpang tindih dengan pekerjaan lainnya, tugas-tugas dibagi habis sedemikian rupa untuk menghindari terjadinya penumpukan kekuasaan di satu tangan, setiap pekerjaan dilengkapi dengan SOP (StandartOperating’Procedure), untuk memudahkan pelaksanaannya.
Dalam rangka peningkatan pelayanan di kantor modern dibentuk Account Representative (AR) yang bertugas melayani dan memutakhirkan data/ informasi Wajib Pajak yang menjadi tanggungannya.
Sumber Daya Aparatur juga ditingkatkan kualitasnya melalui training, pengujian (tes), peringkat jabatan, indikator kunci kinerja, dan penerapan kode etik yang ketat.
Dari jumlah SDM yang ada dirasakan masih kurang memenuhi kebutuhan terutama tenaga pemeriksa fungsional dan TI, jumlah tenaga fungsional pemeriksa yang ada baru sekitar 2.000 orang, idealnya sekitar 25% dari 30.000 pegawai yang ada.
Dalam organisasi yang baru ini dibentuk Direktorat Kepatuhan Internal dan Transformasi Sumber Daya Aparatur yang bertugas mengawasi aparat pajak (semacam provost).
Amandemen Undang Undang Perpajakan
Dalam rangka mengakomodasi pengaruh perkembangan ekonomi dan sosial, maka undang undang perpajakan senantiasa perlu disempurnakan untuk dapat menaikkan daya saing para pelaku ekonomi.
Amandemen ini juga lebih menyeimbangkan hak dan kewajiban Wajib Pajak dan aparat pajak, sehingga diharapkan dapat lebih meningkatkan integritas dan mutu hasil pekerjaan.
Intensifikasi Pajak
Dalam rangka pengawasan terhadap pelaksanaan self assessment oleh Wajib Pajak dilakukan intensifikasi dengan lebih sistematik dan terstandar. Setiap Kantor Pelayanan Pajak (KPP) diinstruksikan membuat mapping dan profiling seluruh Wajib Pajaknya dimulai dengan 200 Wajib Pajak terbesar, dengan demikian dapatlah ditentukan beberapa rasio keuangan yang menjadi benchmark untuk tiap jenis/kelompok usaha yang dapat dipakai sebagai indikator kewajaran. Jika diketahui ada Wajib Pajak yang rasio keuangannya tidak sesuai dengan benchmark-nya, maka Wajib Pajak tersebut harus memberi penjelasan dan membetulkan SPT-nya, jika tidak bersedia akan dilakukan pemeriksaan dan dapat diteruskan dengan penyidikan.
Beberapa program lain yang dikembangkan dalam intensifikasi ini misalnya Optimalisasi Pemanfaatan Data Perpajakan (OPDP) yang dapat mengadu seluruh data transaksi yang dilakukan oleh Wajib Pajak dengan Wajib Pajak lainnya untuk menguji kebenaran pelaporannya. Program lain adalah aktivasi WP Non Filler (WP terdaftar tetapi tidak memasukkan SPT) yang dilakukan dengan komunikasi telepon berbasis TI. Selain itu Kantor Pusat DJP berdasarkan benchmarkie\ah memanggil para Wajib Pajak dari sektor yang sedang booming, yaitu kelapa sawit, real estate dan konstruksi untuk membetulkan SPT masing-masing.
Ekstensifikasi
Jumlah penduduk Indonesia 220 juta atau 55 juta Kepala Keluarga, atau kalau dianggap yang mempunyai penghasilan yang dapat dikenakan pajak adalah separuhnya atau 27,5 juta berarti sejumlah itu harus memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). Namun, ternyata yang memiliki NPWP masih sangat sedikit yaitu 4 juta. Oleh karena itu ekstensifikasi terus menerus digalakan, kali ini menggunakan 3 (tiga) pendekatan’ yaitu: property, pemberi kerja, dan profesi.
Namun pendekatan cara ini ada batas waktunya dan kemungkinan tahun depan akan diganti dengan cara menggunakan peta bfok yang ada dalam administrasi PBB.
Mengingat ekstensifikasi ini tidak dapat dilakukan sendiri ofeh Direktorat Jenderal Pajak, maka dijalin kerjasama yang saling menguntungkan dengan para kepala daerah, gubernur, bupati/ walikota. Apabila penerimaan pajak meningkat tentunya APBD juga akan meningkat karena selain Bagi Hasil Pajak (PPh Orang Pribadi + PPh Pasal 21 dan PBB) yang diperoleh daerah, Dana Alokasi Umum (DAU) yang 70% nya bersumber dari pajak juga akan meningkat.
Sebagai penutup diingatkan bahwa bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang bisa membiayai keperluannya sendiri, maka dari itu milikilah NPWP dan bayar pajak. (Gty/S-5)
Media Indonesia; Selasa, 30 Okt 2007
Possibly Related Posts:
- Jebakan Sunset Policy
- Sunset Policy – Pengampunan Pajak di UU KUP 2008
- Kuasa Wajib Pajak dan penjelasannya
Don’t judge a book by it’s cover ..
Mar 8th
Terjemahan bebasnya adalah “Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya”.
Akhir-akhir ini kalimat tersebut kembali di naik daun kan oleh presenter muda kita yang tak asing lagi dan tak ada duanya .. si ganteng dan terkenal seantero jagad raya .. kita sambut Tukul Arwana .. wah kok jadi kebawa suasananya ya
Dalam kontek kalimat yang seperti diungkap oleh sang presenter, kita dibawa kedalam suatu pemahaman bahwa kita jangan sekali-kali melihat orang dari muka atau bahkan bibirnya tetapi dari apa yang ada di dalam hati (yang tentunya berujung pada tindakan kebaikannya).
Sudah banyak kita dapati ternyata orang yang mulutnya manis dan wajahnya ganteng ternyata penipu ulung (penonton bersorak : iyaa..), bandar narkoba (iyaaa..), koruptor kakap (iyaaaaa…), dan lain-lainnya (iyaaaaa…tepuk tangan).. yang menunjukkan bahwa tidak terdapat korelasi yang positif antara wajah ganteng dan perbutan baik. Meskipun kita sejak kecil juga sudah di didik tentang segala macam rupa setan hantu yang berwujud raksasa (kata Tukul sambil menunjuk Pepi), bertaring (nunjuk Pepi), rambut api (nunjuk Pepi), mata penyala (nunjuk Pepi), punggung berlubang (nunjuk Vega), yang menunjukkan bahwa wujud kejahatan adalah buruk (penonton menunjuk Tukul.. plok plok plok plok .. tepuk tangan bergema .. ) halah kok malah ngelantur sih.
Oke kembali ke lap… top!
Pengalaman sering mengajar kita bahwa bukan cuma wajah ganteng yang tidak berkorelasi positif dengan kebaikan tetapi juga umur. Umur yang tua belum tentu berkorelasi dengan keputusan yang bijak. Terkadang kita seperti melihat sosok anak kecil yang terperangkap dalam wajah tua dan beruban. Terperangkap dalam umur yang setengah baya, yang sudah (seharusnya) matang. Ada sosok yang meski terlihat sudah berumur tetapi masih bermanja-manja dengan setiap wanita ato sosok direktur yang selalu ingin diperhatikan dan dipuji, bahkan mengambeg ketika pendapatnya disanggah anak buahnya.
Dalam kasus ini ada temen yang pernah bersaksi bahwa dulu dia memanggil seseorang dengan sebutan Mas, Mbak, Bang, Bapak, ato Ibu, dikarenakan sejak kecil diajarkan untuk selalu hormat pada yang lebih tua. Ajaran orang tuanya dirasa tidak relevan ketika dia di kantor bertemu dengan rekan kerjanya yang rata-rata sudah 10 – 15 taon di atas umurnya tetapi lebih senang maen game di komputer dari pada mengerjakan tugasnya, bangga pada dirinya atas prestasi yang kecil, berteriak kegirangan jika proyeknya berhasil, menggunjingkan atasan seakan dirinya tidak melakukan tindakan bodoh yang sama, dan beberapa tindakan lain yang menurutnya kekanak-kanakan. Sejak itu dia memanggil orang langsung dengan nama nya.
Tidak pantas sebutan Bapak ato Ibu kepada mereka karena tindakannya belum menunjukkan mereka sebagai sosok Bapak ato Ibu yang pantas untuk dihormati dan dihargai, jelasnya padaku.
Lho, tetapi kok sekarang kamu memanggil mereka tetap dengan sebutan Bapak ato Ibu, bahkan kamu memanggilku dengan sebutan Mas, ato jangan-jangan kamu menganggap aku pantas ya untuk disebut Mas, tanyaku sambil tersipu.
Eh .. emh ..bukannya kamu pantas untuk disebut Mas, meskipun udah cukup bijak sih (saat itu cupingku udah berkembang, malu) tapi aku pernah baca suatu buku yang mengatakan bahwa “panggilan yang kita sematkan pada orang bukan untuk menunjukkan orang itu siapa dia tetapi untuk menunjukkan siapa diri kita. Untuk menunjukkan pola pikir kita, rasa hormat kita, dan bukan untuk menunjukkan bahwa dia jelek dan kita baik”. Jadi ya sekarang aku kembali ke ajaran nenek moyang bahwa kita musti hormat ama orang tua bahkan orang lain yang tidak kita kenal atopun yang lebih muda dari kita, jawabnya panjang lebar.
Jawaban yang keluar dari anak usia 20-an taon, menakjubkan.
Ato karena dia memujiku terlebih dulu
.. entahlah.
Kembali beberapa taon yang lampau , aku begitu tertarik pada ajaran Yesus, Budha, Zen, Anthony de Mello, Jalaludin Rumi, Kahlil Gibran, Manuskrip Celestine, Mahabarata Ramayana, Wayang, dan beberapa tokoh serta ajaran ketimur lainnya (sekarang sih tetep
) . Bagaimana mereka bisa berpikir dan bertindak seperti itu selalu membuatku tertegun. Beberapa teman disekitarku juga menunjukkan ketertarikan yang sama, meski tidak semua tokoh yang aku kagumi dia juga menyukainya. Terkadang kita saling debat siapa yang paling besar diantara yang lain. Perdebatan (untuk tidak dibilang ngegosip.. masak lelaki ngegosip sih..;) ) inilah yang sering menimbulkan pertanyaan sederhana, bagaimana mungkin seseorang bisa lebih baik dimata yang lain.
Gus Dur bagiku seperti seorang pandito, tetapi bagi orang yang duduk di sebelahku saat kereta bergerak dari Gambir menuju Tawang dulu, Gus Dur tak ubahnya seperti badut. Aku membawa buku Emha di tasku dan temen kantorku membawa Gajah Mada. Semua memiliki pandangan sendiri-sendiri dan berbeda terhadap tokoh tertentu. Hal yang umumnya dipengaruhi pengalaman masa kecil, lingkungan pergaulan saat ini, dan cita-cita masa depan.
Sebuah buku tentang Al Ghazali membuatku merasa bahwa tokoh ini tidak layak disebut sebuah tokoh besar. Meskipun buku tersebut telah berusaha menciptakan sosok hero seorang Al Ghazali, tetapi bagiku pola pikir dan tindakannya seperti yang dilukiskan dalam buku itu hanyalah sebatas kulit dan tidak menyentuh esensi kebaikan yang selama ini aku peroleh dari buku-buku yang aku baca. Imam Agung Al Ghazali hanya menjadi semacam badut yang kebetulan beruntung dipuja oleh jaman.
Badut bagiku dan hero bagi yang lain.
Buku berikutnya yang aku baca tentang Imam Agung ini menulis dengan cara yang berbeda dan sudut pandang yang berbeda pula (meski gak beda jauh). Tetapi bisa menampilkan beliau sebagai sosok yang pantas dikagumi. Inilah akhirnya yang membuatku berpikir bahwa sebuah buku, terutama buku tentang seorang tokoh, hanyalah merupakan sudut pandang dari sisi pengarangnya. Yang belum tentu sama dengan yang dilihat ato yang ingin dilihat oleh pembacanya. Wawasan si penulislah yang membuat sebuah buku menjadi layak dibaca ato tidak. Seorang badut tentu akan melihat seorang tokoh dari leluconnya dan seorang petani mungkin melihat dari keterampilannya menanam. Sebab standar nilai-nilai (etika, moral, kesopanan) tertinggi yang bisa dicapai seorang penulis adalah dirinya.
So .. udahlah .. don’t judge a book by it’s cover .. juga jangan langsung judge the person by his blog book ……
do not judge
be communicative !
Catatan :
Sebuah pembelaan diri ketika seseorang berkata bahwa aku telah mengenalmu dari tulisan-tulisanmu. Hehehe ..
Possibly Related Posts:
- FIGHT CORRUPTION!
- Pesta Blogger 2008 yang Bikin BETE
- Kemiskinan (Poverty)
- Selamat Idul Fitri 1429 H
- Bubarin KBBC Besok !